Perilaku Konsumsi Dalam Perspektif Islam

18 06 2008

Perilaku Konsumsi Dalam Perspektif Islam

(studi tentang masalah kehalalan barang terkait dengan konsep maslahah dalam Islam yang membentuk persepsi tentang penolakan terhadap kemudharatan)

1. Latar Belakang

a) Latar Belakang Masalah

Pembauran budaya materialisme, utilitarisme, dan hedonisme di negara Muslim telah menimbulkan perubahan perilaku yang sangat luar biasa pada umat Islam. Dorogan untuk hidup bebas sudah tentu memaksa mereka meninabobokan kesadarannya pada ajaran agama[1]. Hal inilah kiranya yang telah melanda masyarakat Muslim baik di dunia maupun di Indonesia.

Dalam hal mengonsumsi makanan, umat Islam dihadapkan pada realitas yang menjunjung tinggi prestise, sehingga tuntunan agama seringkali dikesampingkan demi mencapai kepuasan tersebut. Mencoba jenis makanan baru, makan di restoran Cina bahkan menggunakan lemak babi untuk pengedap makanan kadang tak terpikirkan apakah hal-hal tersebut akan melangggar norma-norma Islam. Ini adalah fenomena sosial yang berkembang di masyarakat dalam pengamatan penulis maupun melalui informasi-informasi yang didapat penulis. Dalam hal ini bukan bararti Islam melarang umat Islam mencoba menu baru atau makan di restoran Cina, malainkan hanya membatasi agar konsumen muslim tidak terjerumus untuk memakan makanan yang diharamkan dalam Islam, dan restoran Cina identik dengan makanan yang mengandung babi atau bahan-bahan lain yang cenderung diharamkan dalam Islam. Oleh karena itu, Islam sangat memperhatikan umatnya agar senantiasa berhati-hati dalam mengonsumsi makanan terlebih lagi di restoran-restoran yang tidak menjamin kehalalan makanan yang dijualnya.

Islam sangat menghargai kemashlahatan manusia dengan membuat batasan-batasan atau rambu-rambu dalam mengonsumsi makanan. Israf (tidak berlebih-lebihan) dan tidak mengonsumsi makanan yang haram termasuk salah satu rambu yang diatur Islam. Sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra’ ayat 26-27 dan An-Nahl ayat 114.

Namun sejauh manakah rambu-rambu tersebut difahami dan dilaksanakan oleh umat Islam itu sendiri, sehingga ada isu pembauran budaya materialisme, utilitarisme, dan hedonisme telah menimbulkan perubahan perilaku konsumsi yang memaksa umat Islam meninabobokan kesadarannya pada ajaran agama sebagaimana yang terdapat dalam buku M. Muflih,MA, serta dari realitas yang ada yang mengindikasikan adanya penyimangan terhadap norma Islam dalam berkonsumsi?. Hal inilah kiranya yang membawa penulis untuk mengangkat tema ini, penulis ingin membuktikan apakah penyimpangan terhadap norma Islam dalam berkonsumsi tersebut berlaku untuk umat Islam pada umumnya?

b) Kegunaan Penelitian

Dari uraian diatas, penulis menilai urgensitas dari masalah tersebut adalah bagaimana kita sebagai seorang akademisi dalam menyikapi realitas yang ada. jika pada kenyataannya (berdasarkan hasil penelitian nanti) ditemukan fakta bahwa memang telah terjadi penyimpangan norma Islam yang signifikan dalam hal mengonsumsi ini, maka ini menjadi PR bagi kita untuk meluruskan kembali persepsi masyarakat Islam dalam mengonsumsi dan mendorong perubahan perilaku konsumsi tersebut kepada norma-norma Islam. Hal ini juga sakaligus menjadi tantangan bagi para produsen / pemilik rumah makan untuk selalu kreatif dan inovatif menciptakan makanan-makanan yang tak kalah nilai jual (prestise) dan kenikmatan tanpa mengesampingkan aturan-aturan / norma Islam agar umat Islam tak ada alasan untuk mengonsumsi makanan yang diharamkan oleh Islam.

Namun jika pada kenyataannya ditemukan fakta bahwa hal tersebut tidak berlaku bagi umat Islam pada umumnya, maka inipun menjadi tugas kita untuk terus mempertahankannya dengan terus berkreasi dan berinovasi melalui sarana-sarana pendidikan guna senantiasa mengingatkan dan menguatkan persepsi mereka tentang berkonsumsi secara Islami, misalnya melalui penerbitan buku, majalah, artikel-artikel, seminar maupun melalui iklan-iklan layanan masyarakat.

2. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang diatas, tema penelitian ini adalah Perilaku Konsumsi dalam Perspektif Islam. Mengingat permasalahan yang dicakup dalam tema tersebut sangat luas, maka penulis membatasi pembahasannya pada studi tentang masalah kehalalan barang terkait dengan konsep maslahah dalam Islam yang membentuk persepsi tentang penolakan terhadap terhadap kemudharatan. Tema tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :

  1. Bagaimana tingkat pemahaman umat Islam terhadap konsep maslahah? Apakah pemahaman tersebut membentuk persepsinya tentang penolakan terhadap kemudharatan yang pada akhirnya akan membatasi konsumsinya hanya pada barang-barang yang halal?
  2. Apakah ada korelasi yang signifikan antara persepsi tentang penolakan terhadap kemudharatan dengan pembatasan konsumsi umat Islam hanya pada barang-barang yang halal?

3. Kerangka pikir/Kerangka Teori

a) Teori Perilaku Konsumen

Dalam teori konvensional, Perilaku konsumen diartikan sebagai tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengonsumsi dan menghabiskan produk atau jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusuli tindakan ini[2].

The American Marketing Association mendefinisika perilaku konsumen sebagai berikut:

Perilaku konsumen merupakan interaksi dinamis antara afeksi dan kognisi, perilaku, dan lingkungannya dimana manusia melakukan kegiatan pertukaran dalam hidup mereka… (American Marketing Association)

Sementara Islam melihat aktivitas ekonomi termasuk didalamnya perilaku konsumsi sebagai salah satu cara untuk menumpukkan pahala menuju falah (kebahagiaan dunia dan akhirat)[3]. Yusuf Qardhawi menyebutkan beberapa variable moral dalam berkonsumsi, diantaranya konsumsi atas alasan dan pada barang-barang yan baik (halal), berhemat, tidak bermewah-mewahan, menjauhi utang, dan menjauhi kebakhilan dan kekiriran[4].

Jadi dapat disimpulkan bahwa aktivitas konsumsi dalam Islam merupakan salah satu aktivitas ekonomi manusia yang juga bertujuan untuk meningkatkan ibadah dan keimanan kepada Allah SWT dalam rangka mendapatkan kemenangan, kedamaian, dan kesejahteraan akherat (falah).

Etika Islam dalam Konsumsi[5]

  1. Mensyukuri nikmat Allah

Mensyukuri ekonomi dan harta kekayaan (al-Mal) itu antara lain dengan jalan yang serba halalan thayyiban, baik dalam hal produksi dan distribusinya, maupun terutama dalam memperoleh dan mengonsumsinya. Mengonsumsi barang dan jasa yang halal merupakan syarat utama bagi kehidupan manusia Muslim yang menghendaki kehidupan yang baik.

  1. Gemar Bersedekah

Selain dikenai ewajiban zakat, setiap Muslim juga dianjurkan untuk berinfak dan bersedekah. Banyak ayat yang melukiskan keistimewaan sedekah, diantaranya Al-Baqarah : 261-262.

  1. Larangan Pelit

Pelit, kikir, atau bakhil adalah salah satu sifat yang dibenci Al-Qur’an dan Hadits, diantarany dalam surat Al-Hadiid ayat 23-24.

  1. Larangan Boros (tabdzir/israf)

Larangan boros ini terdapat dalam surat al-Isra ayat 26-27.

Sebagai agama yang syamil, Islam telah memberikan rambu-rambu berupa batasan-batasan serta arahan-arahan positif dalam berkonsumsi. Setidaknya terdapat dua batasan dalam hal ini[6]:

Pertama, pembatasan dalam hal sifat dan cara. Seorang muslim mesti sensitif terhadap sesuatu yang dilarang oleh Islam. Mengkonsumsi produk-produk yang jelas keharamannya harus dihindari, seperti minum khamr dan makan daging babi.. Seorang muslim haruslah senantiasa mengkonsumsi sesuatu yang pasti membawa manfaat dan maslahat, sehingga jauh dari kesia-siaan. Karena kesia-siaan adalah kemubadziran, dan hal itu dilarang dalam islam (QS. 17 : 27)

Kedua, pembatasan dalam hal kuantitas atau ukuran konsumsi. Islam melarang umatnya berlaku kikir yakni terlalu menahan-nahan harta yang dikaruniakan Allah SWT kepada mereka. Namun Allah juga tidak menghendaki umatnya membelanjakan harta mereka secara berlebih-lebihan di luar kewajaran (QS. 25 : 67, 5 : 87). Dalam mengkonsumsi, Islam sangat menekankan kewajaran dari segi jumlah, yakni sesuai dengan kebutuhan. Dalam bahasa yang indah Al-Quran mengungkapkan “dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya…” (QS.17:29).

Motif berkonsumsi dalam Islam pada dasarnya adalah Maslahah (Public Interest or General Human Good), kebutuhan dan kewajiban. Maslahah secara bahasa, berarti kebergunaan (utility) atau kesejahteraan (welfare) yang oleh Abu Hamid Al-Ghazali (505 H/1111 M) dan Abu Ishaq Al-Shatibi (790 H/1388M) Masalih (plural of Maslahah) dibagi menjadi 3 kategori: Esensial(essential/daruriyah), pelengkap (complementary/Hajiyah) dan keinginan (desirable/tahsiniyah) dan tugas negaralah yang memastikan kemaslahatan kategori pertama itu terpenuhi dengan baik[7].

Dari uraian teori diatas, penulis mendapat pijakan untuk pengujian hipotesis, dimana hipotesis ini berkaitan dengan persepsi konsumen muslim yang lahir dari konsep maslahah (motif berkonsumsi) yang berkaitan pula dengan pembatasan konsumsi umat Islam untuk senantiasa mengonsumsi sesuatu yang jelas status kehalalannya.

b) Hipotesis

Konsep maslahah[8] diartikan sebagai konsep pemetaan perilaku konsumen berdasarkan asas kebutuhan dan prioritas, dia sangat berbeda dengan utility yang pemetaan majemuknya tidak terbatas.

Sikap hemat, membatasi diri pada barang yang halal dan prioritas terhadap kebutuhan pokok merupakan cakupan yang termuat dalam konsep maslahah.

Dari konsep maslahah inilah terbentuknya persepsi-persepsi konsumen muslim, diantaranya persepsi tentang penolakan terhadap kemudharatan. Dari persepsi tantang penolakan terhadap kemudharatan ini akan memengaruhi tindakan konsumen muslim dalam mengambil keputusan untuk membeli. Dalam literature penulis, kemudharatan disini dicontohkan seperti barang-barang yang haram, termasuk juga barang-barang yang syubhat dan yang membahayakan diri sendiri.

Berangkat dari teori yang telah dipaparkan diatas serta alur penjelasan tersebut, penulis menyimpulkan bahwa dari konsep maslahah akan melahirkan persepsi konsumen tentang penolakan terhadap kemudharatan, yang berarti penolakan terhadap barang-barang haram, termasuk yang syubhat. Sehingga lahirlah hipotesis “Persepsi Konsumen Muslim Tentang Penolakan terhadap Kemudharatan Membatasi Konsumsinya Hanya Pada Barang-Barang Yang Halal”.

Penentuan Hipotesis

Pada penelitian ini, penulis ingin membuktikan hipotesis apakah ada hubungan antara Persepsi Konsumen Muslim tentang Penolakan terhadap Kemudharatan dengan Perilaku Konsumen Muslim untuk Membatasi Konsumsinya Hanya pada Barang-barang yang Halal. Oleh karena itu, penulis memilih variabel yang akan diuji dari hasil angket yang telah diedarkan berupa pernyataan dari komponen sikap, yaitu pernyataan d3 (Barang yang TIDAK ADA JAMINAN KEHALALANNYA HARUS DIHINDARI untuk dikonsumsi) dan komponen perilaku, yaitu pernyataan e8 (Saya HANYA membeli/menkonsumsi barang yang SUDAH BERLABEL HALAL yang dikeluarkan BPPOM MUI). Pernyataan ini dianggap paling mendekati untuk menguji hipotesis tersebut. Untuk itu, penulis menetapkan hipotesis sebagai berikut :

H0 : “Tidak Ada Hubungan antara Persepsi Konsumen Muslim tentang Penolakan terhadap Kemudharatan dengan Perilaku Konsumen untuk Membatasi Konsumsinya Hanya Pada Barang-barang Halal”.

H1 : “Ada Hubungan antara Persepsi Konsumen Muslim tentang Penolakan terhadap Kemudharatan dengan Perilaku Konsumen untuk Membatasi Konsumsinya Hanya Pada Barang-barang Halal”.

c) Model Statistik dan level signifikansi Hipotesis

Pengujian Hipotesis ini dilakukan berdasarkan Ringkasan Panduan untuk Menentukan Model Analisis Statistik yang telah diberikan oleh dosen pembimbing.

Level Pengukuran

Jumlah Kategori untuk Setiap Variabel

Model Analisis yang Tepat

Model Statistik Deskriptif Ringkasan yang Tepat

Model Statistik Inferensial yang Tepat

Ordinal-Ordinal

Kedua Variabel dengan banyak Kategori

Korelasi Rangking

Kendall’s Tau

Spearman’s rho

Test untuk signifikansi tau

Tes untuk signifikansi rho

Dari panduan tersebut, penulis menetapkan Model Analisis yang tepat menggunakan Korelasi Rangking, karena level pengukurannya ordinal-ordinal dan kedua variabel dengan banyak kategori.

Untuk mengetahui apakah korelasi tersebut signifikan atau tidak, maka penulis menetapkan level signifikansi pada level 0.05 (5 persen) untuk menerima atau menolak hipotesis null.

4. Metode dan Proses Penelitian

a) Jenis Penelitian

Pada penelitian ini, penulis menggunakan penelitian survei yaitu penelitian yang dilakukan pada ukuran populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelakari merupakan data dari sample yang terdapat pada populasi tersebut.(Kerlinger:1973) Penelitian survey dilakukan untuk membuat generalisasi dari sebuah pengamatan dan hasilnya akan lebih akurat jika menggunakan sample yang representative. (David kline:1980 dalam sugiono:2002:7)[9].

Berdasarkan jenis data yang dikumpulkan, penulis menggunakan jenis data kuantitatif dengan menggunakan alat pengumpul data berupa Quisioner atau angket. Angket yang digunakan penulis adalah angket praktek pengumpulan data pada mata kuliah Metode Penelitian Bisnis dengan judul Sikap dan Perilaku Konsumsi Umat Islam (studi tentang Masalah Kehalalan Barang/Produk).Angket ini telah melalui uji validitas dan reliabilitas dan telah dinyatakan lulus uji.

b) Sumber dan Proses Pengumpulan Data

Jenis data yang dimiliki penulis adalah data primer, artinya data ini diperoleh langsung dari responden yang proses pengumpulannya dilakukan oleh mahasiswa perbankan syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada praktek pengumpulan data untuk penelitian tentang Sikap dan Perilaku Konsumsi Umat Islam (studi tentang Masalah Kehalalan Barang/Produk) di daerah masing-masing.

Sumber data diperoleh dari responden yang tersebar disekitar Jakarta, Bogor Depok, Tangerang, Bekasi, Serang, Sukabumi, dan Garut. Penetapan wilayah ini berdasarkan tempat tinggal para mahasiswa (termasuk penulis). Responden yang menjadi sampel adalah laki-laki dan perempuan dengan menggunakan teknik random sampling untuk setiap wilayah penelitian. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah sebanyak 889 responden.

Data yang telah dikumpulkan ini telah diolah dengan menggunakan program SPSS sehingga alternatif analisis statistik dapat dilakukan secara variatif.


c) Kelebihan dan Kekurangan Data

Kelebihan dari data ini adalah data ini memenuhi kriteria untuk pengambilan kesimpulan generalisasi karena selain dari jumlah sampel yang relatif banyak dan tersebar secara random, data ini juga lulus uji statistik inferensial sehingga bisa digunakan untuk generalisasi. Data ini juga di tujukan hanya kepada responden Muslim, artinya tidak ada responden yang non-Muslim, sehingga dipastikan data ini diisi oleh orang yang tepat.

Sedangkan kekurangannya adalah karena proses pengumpulan data ini dilakukan secara individual oleh banyak mahasiswa sehingga ada kekhawatiran data itu merupakan manipulasi atau karangan dari mahasiswa tersebut, namun penulis tetap positive thinking bahwa hal-hal tersebut hanya merupakan kekhawatiran penulis semata.

5. Penyajian dan Analisis Data

a) Karakteristik Sampel Penelitian

Responden yang menjadi sampel pada penelitian ini adalah penduduk di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Serang, Sukabumi, dan Garut dimana lokasi ini berdasarka tempat tinggal mahasiswa pengumpul data (termasuk penulis). Jumlah sampel pada penelitian ini adalah sebanyak 889 responden.

Dillihat dari segi usia responden, rata-rata usia mereka adalah 34,41 berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji mean. Seperti pada tabel 1.1 dan sebaran usia tersebut digambarkan dalam bentuk histogram berikut ini :

Tabel 1

Usia responden

N

Valid

889

Missing

0

Mean

34,41

Jika dilihat dari sebaran wilayah responden berdasarkan provinsi asal responden, maka jumlah responden terbesar terdapat di provinsi Banten yaitu sebanyak 421 responden atau sekitar 47,4%. Sebagaimana ditampilkan pada tabel 1.2 dibawah ini :

Tabel 1.2

Provinsi asal

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid

DKI Jakarta

301

33,9

33,9

33,9

Jawa Barat

155

17,4

17,4

51,3

Banten

421

47,4

47,4

98,7

67

12

1,3

1,3

100,0

Total

889

100,0

100,0

Sementara jika dilihat dari kabupaten/kodya, maka responden terbesar berada di kabupaten Tangerang yaitu sebesar 270 responden atau sekitar 30,4%. Sebagaimana yang di tampilkan tabel 1.3 dibawah ini :

Tabel 1.3

Kabupaten/kodya asal

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid

267

12

1,3

1,3

1,3

Jakarta Barat

74

8,3

8,3

9,7

Jakarta Selatan

177

19,9

19,9

29,6

Jakarta Timur

50

5,6

5,6

35,2

Kota Depok

33

3,7

3,7

38,9

Kota Bekasi

41

4,6

4,6

43,5

Kota Bogor

34

3,8

3,8

47,4

Kab. Bogor

12

1,3

1,3

48,7

Kab. Sukabumi

10

1,1

1,1

49,8

Kab. Bekasi

13

1,5

1,5

51,3

Kab. Tangerang

270

30,4

30,4

81,7

Kab. Serang

13

1,5

1,5

83,1

Kab. Lebak

15

1,7

1,7

84,8

Kota Tangerang

123

13,8

13,8

98,7

Kab. Garut

12

1,3

1,3

100,0

Total

889

100,0

100,0

Berdasarkan jenis kelamin responden, tidak terdapat jenjang yang telalu jauh antara pria dan wanita, selisih antara keduanya hanya sekitar 8,8%, dengan jumlah responden pria lebih banyak dibanding wanita. Hal ini dapat dilihat pada tabel 1.4 dibawah ini.

Tabel 1.4

Jenis kelamin responden

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid

Pria

484

54,4

54,4

54,4

Wanita

405

45,6

45,6

100,0

Total

889

100,0

100,0

Data mengenai rata-rata penghasilan perbulan responden disajikan dalam tabel 1.5. Berdasarka pada tabel ini, responden berpenghasilan rata-rata perbulan antara Rp.1.000.001-Rp. 2.000.000 yaitu sebanyak 141 responden atau sekitar 15,9%. Sementara terbanyak kedua yaitu penghasilan rata-rata perbulan Rp. 500.001 – Rp. 1.000.000 yaitu sebanyak 119 responden atau sekitar 13,4%. Dan sisanya dapat dilihat pada table berikut ini :

Tabel 1.5

Rata-rata Penghasilan perbulan Responden

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid

< Rp. 500.001

70

7,9

14,1

14,1

Rp. 500.001 – Rp. 1.000.000

119

13,4

23,9

38,0

Rp.1.000.001-Rp. 2.000.000

141

15,9

28,3

66,3

Rp.2.000.001-Rp. 3.500.000

92

10,3

18,5

84,7

Rp. 3.500.001 – Rp. 5.000.000

42

4,7

8,4

93,2

Rp. 5.000.001 – Rp. 7.500.000

17

1,9

3,4

96,6

Rp. 7.500.00 -Rp. 10.000.000

9

1,0

1,8

98,4

> Rp. 10.000.000

8

,9

1,6

100,0

Total

498

56,0

100,0

Missing

9

4

,4

System

387

43,5

Total

391

44,0

Total

889

100,0

Data mengenai tingkat pendidikan responden disajikan pada tabel 1.6. berdasarkan data ini, mayoritas responden berpendidikan terakhir SMA/SLTA, yaitu sebanyak 399 responden atau sekitar 44,9%.

Tabel 1.6

Tingkat pendidikan terakhir Responden

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid

Tidak sekolah/tidak tamat SD

7

,8

,8

,8

SD

75

8,4

8,4

9,2

SLTP

70

7,9

7,9

17,1

SLTA

399

44,9

44,9

62,0

Dipl 1-2

37

4,2

4,2

66,2

Dipl 3-BA

89

10,0

10,0

76,2

S-1

189

21,3

21,3

97,5

S-2/S3

19

2,1

2,1

99,7

Pesantren saja

2

,2

,2

99,9

10

1

,1

,1

100,0

Total

888

99,9

100,0

Missing

System

1

,1

Total

889

100,0

b) Hasil Penelitian

Berdasarkan data yang didapat penulis untuk menguji seberapa besar tingkat pemahaman responden terhadap konsep maslahah dengan indikator bahwa responden akan menghindari barang-banrang yang tidak ada jaminan kehalalannya. yang akan disajikan pada tabel 2.1. didapat bahwa tingkat pemahaman responden rata-rata berada pada level 7,43 dari kisaran angka 1-9. Nilai ini berdasarkan uji statistik mean pada komponen angket yaitu pernyataan d3, dimana dari pernyataan tersebut mewakili variabel mengenai tingkat pemahaman tentang maslahah tersebut. Nilai ini menunjukkan angka positif bahwa responden MENGETAHUI/SETUJU dengan pernyataan tersebut.

Tabel 2.1

Barang yang tidak ada jaminan kehalalannya harus dihindari untuk dikonsumsi

N

Valid

889

Missing

0

Mean

7,43

Median

8,00

Sementara untuk menguji apakah pemahaman tersebut membentuk persepsinya tentang penolakan terhadap kemudharatan yang pada akhirnya akan membatasi konsumsinya hanya pada barang-barang yang halal, penulis melakukan pengujian pernyataan e8 pada komponen angket. Dari data tersebut diperoleh mean (rata-rata) score sebesar 6,98 dari kisaran angka 1-9. Meskipun angka ini tidak terlalu besar, namun nilai ini juga menunjukkan angka positif yang berarti bahwa responden SELALU membeli/mengonsumsi barang yang sudah berlabel halal yang dikeluarkan BPPOM MUI.

Tabel 2.2

Saya HANYA membeli/mengkonsumsi barang yg SUDAH BERLABEL HALAL yang dikeluarkan BPPOM MUI.

N

Valid

889

Missing

0

Mean

6,98

Median

7,00

Untuk menjawab permasalahan kedua yang diajukan penulis diawal, mengenai Apakah ada korelasi yang signifikan antara persepsi tentang penolakan terhadap kemudharatan dengan pembatasan konsumsi umat Islam hanya pada barang-barang yang halal, penulis melakukan uji hipotesis dengan menguji 2 pernyataan dalam angket tersebut dengan uji korelasi (Nonparametric Correlation) sebagaimana di sajikan table 2.3 berikut ini :

Hasil Pengujian Hipotesis

Tabel 2.3

Dari hasil perhitungan korelasi antara variable sikap (Barang yang TIDAK ADA JAMINAN KEHALALANNYA HARUS DIHINDARI untuk dikonsumsi) dengan variabel perilaku (Saya HANYA membeli/menkonsumsi barang yang SUDAH BERLABEL HALAL yang dikeluarkan BPPOM MUI) menunjukkan angka 0.479. Angka ini menunjukkan adanya korelasi yang kuat dan searah. Dari hasil perhitungan angka probabilitas diperoleh sebesar 0.000. angka probabilitas 0.000<0.05 maka hubungan kedua variabel tersebut adalah signifikan.

Dasar Pengambilan Keputusan[10] :

  • Jika probabilitas <0.05, maka hubungan kedua variabel signifikan
  • Jika probabilitas >0.05, maka hubungan kedua variabel tidak signifikan

Tingkat signifikansi pengamatan sangat kecil (0.000), jauh lebih kecil dari 0.01 sehingga kita menolak hipotesis null. Berarti, Ada Hubungan yang signifikan antara Persepsi Konsumen Muslim tentang Penolakan terhadap Kemudharatan dengan Perilaku Konsumen untuk Membatasi Konsumsinya Hanya Pada Barang-barang Halal.

Analisis dan Interpretasi Hipotesis

Dari pengujian hipotesis di atas, baik melalui uji statistik deskriptif maupun uji statistik inferensial, diperoleh hasil yang mengindikasikan ditolaknya H0. Dengan demikian hipotesis yang diajukan penulis diterima. Berarti, Ada Hubungan yang signifikan antara Persepsi Konsumen Muslim tentang Penolakan terhadap Kemudharatan dengan Perilaku Konsumen untuk Membatasi Konsumsinya Hanya Pada Barang-barang Halal. Data ini akan memperkuat hipotesis awal mengenai “Persepsi Konsumen Muslim Tentang Penolakan terhadap Kemudharatan Membatasi Konsumsinya Hanya Pada Barang-Barang Yang Halal”.

b) Interpretasi Hasil studi

Berdasarkan data-data yang diperoleh dari hasil penelitian yang telah dilakukan penulis kiranya dapat diambil kesimpulan bahwa penyimpangan terhadap norma Islam dalam berkonsumsi, dimana norma Islam kerap dikesampingkan tersebut tidak berlaku bagi umat Islam pada umumnya. Karena berdasarkan penelitian tersebut, didapat korelasi yang positif. Artinya, persepsi konsumen muslim yang lahir dari konsep maslahah (motif berkonsumsi) akan mempengaruhi keputusan membeli bagi seorang konsumen Muslim untuk membatasi konsumsinya hanya pada barang-barang yang halal.

Fenomena yang terjadi sekarang dimana dalam hal mengonsumsi makanan, umat Islam dihadapkan pada realitas yang menjunjung tinggi prestise, sehingga tuntunan agama seringkali dikesampingkan itu bisa dikatakan hanya segelintir umat Islam yang melakukannya. Sehingga, kita tidak bisa men-generalisasikan fenomena tersebut untuk keseluruhan umat Islam. Tetapi yang bisa kita generalisasikan adalah bahwa Umat Islam pada umumnya tetap memegang norma-norma Islam dalam hal mengonsumsi makanan yang halal dan menjauhkan diri dari barang yang haram.

Berdasarkan hasil temuan ini, kiranya ini menjadi tugas kita untuk terus mempertahankan persepsi tersebut dengan terus berkreasi dan berinovasi melalui sarana-sarana pendidikan guna senantiasa mengingatkan dan menguatkan persepsi mereka tentang berkonsumsi secara Islami, misalnya melalui penerbitan buku, majalah, artikel-artikel, seminar maupun melalui iklan-iklan layanan masyarakat.

Yang tak kalah pentingnya adalah peran MUI dalam memberikan label “halal” untuk setiap makanan yang beredar di masyarakat. Beberapa waktu kebelakang, sempat mencuat kontroversi mengenai rencana labelisasi “Halal” pada kemasan barang-barang konsumsi masyarakat baik berupa makanan, minuman, kosmetika, dan lain sebagainya. Beragam pendapat bermunculan baik dari kalangan pengusaha, masyarakat maupun ulama. Pada dasarnya hanya dua pendapat yang muncul; menolak dan mendukung.

Menurut hemat penulis, labelisasi halal merupakan langkah maju yang semestinya mendapat dukungan dari semua kalangan terutama khalayak konsumen muslim, karena persoalan Halal dan Haram bagi seorang muslim adalah masalah prinsip yang tidak bisa ditawar lagi. Halal dan haram akan terkait dengan diterima atau tidaknya ibadah seseorang.

Dalam sebuah hadis diceritakan bahwa ada seseorang yang telah melakukan perjalanan panjang sehingga rambutnya kusut, kotor dan berdebu. Ia mengangkat kedua tangannya ke langit sambil berdoa, “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku, …” tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dikenyangkan dengan (makanan dan minuman) yang haram. Kata Rasulullah, “maka bagaimana mungkin permohonannya dikabulkan?“.

Hadis tersebut di atas adalah sebuah penegasan juga peringatan kepada kita bahwasanya Allah membenci seorang hamba -hingga tidak berkehendak untuk mengabulkan permohonannya- yang sumber penghidupan sehari-harinya, makanan, minuman, pakaian dan hartanya berasal dari sesuatu yang haram atau diperoleh melalui cara yang haram. Selain itu, amaliah ibadah seseorang akan menjadi tidak bernilai apa-apa di hadapan Allah jika sarana dan prasarana untuk melaksanakan sebuah ibadah terkait atau tercampur dengan barang-barang haram karena Allah hanya menerima yang baik-baik saja.

Dalam sebuah hadist lain yang diterima dari Ibnu Mas’ud r.a. Bahwa Rosulullah SAW. bersabda, “mencari yang halal adalah wajib bagi setiap muslim” (diriwayatkan oleh Ibnu Abdilbarr). Hadist ini bermakna bahwa setiap muslim mempunyai kewajiban untuk senantiasa mengkonsumsi makanan dan minuman halal menurut syara (hukum agama), termasuk dalam mencari sumber nafkah hidupnya.

Keharaman sebuah benda (baik makanan, minuman maupun barang) bukan hanya karena dzatnya yang telah ditetapkan keharamannya oleh Allah seperti anjing, babi, benda-benda najis, bahan-bahan konsumsi yang dapat memabukkan (khamr) dan lain sebagainya, melainkan juga oleh karena cara memperolehnya yang salah seperti mencuri, korupsi, menipu, kolusi dan sebagainya. Boleh jadi seseorang memakan makanan yang secara dzatiah halal, namun karena makanan tersebut merupakan hasil dari mencuri maka makanan tersebut menjadi haram untuk dikonsumsi.

Berpijak dari hasil penelitian tadi dan beberapa pembahasan dan juga hadist diatas, penulis merumuskan usulan yang berhubungan dengan masalah konsumsi ini sebagai berikut :

  1. Bagi siapapun yang berprofesi sebagai pedagang, ia harus berpegang pada aturan-aturan yang telah ditetapkan baik oleh agama maupun pemerintah, termasuk MUI. Dalam hal ini juga para produsen harus selalu kreatif dan inovatif dalam menciptakan produk-produk / makanan yang yang tak kalah nilai jual (prestise) dan kenikmatan tanpa mengesampingkan aturan-aturan / norma Islam agar umat Islam tak ada alasan untuk mengonsumsi makanan yang diharamkan oleh Islam.

2. Bagi setiap individu (pembeli/konsumen) harus mengetahui atau paling tidak meyakini apa yang dibelinya bukan barang-barang yang didalamnya terkandung unsur-unsur yang haram. Agama memang tidak mewajibkan seseorang untuk bertanya, memeriksa dan meneliti meneliti apakah barang yang diterimanya halal atau haram, selama secara zahiriyah (apa yang tampak) diyakini halal. Misalnya bagi orang yang membeli sebuah barang, jika diyakini bahwa apa yang dibelinya adalah halal -bisa jadi karena membelinya dari sesama muslim atau karena ada cap halal pada kemasan- maka ia tidak diwajibkan untuk meneliti kembali barang tersebut. Namun jika dibeli dari tempat-tempat yang di menjamin kehalalan suatu barang, hendaklah menerapkan prinsip kehati-hatian.

3. Bagi BPPOM MUI harus dengan tegas menyatakan / memberi label “halal” bagi makanan yang memang halal, dan dengan tegas menyatakan haram untuk barang/makanan yang terbukti haram dan mensosialisasikannya kepada masyarakat.

4. Bagi para akademisi, kita harus cepat tanggap mengenai fenomena yang terjadi di masyarakat dengan senantiasa memberikan pencerahan, pengarahan dan bahkan ikut terjun mengawasi peredaran makanan/barang yang menjadi konsumsi umat Islam pada umumnya.

Jika hal ini telah dilakukan oleh masing-masing pihak (produsen, konsumen, MUI, dan kademisi) maka tujuan konsumsi dalam Islam dimana konsumsi itu untuk meningkatkan ibadah dan keimanan kepada Allah SWT dalam rangka mendapatkan kemenangan, kedamaian, dan kesejahteraan akherat (falah) dapat tercapai.


[1] M. Muflih,MA, Perilaku Konsumen Dalam Perspektif Ilmu Ekonomi Islam,(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006) h.86

[2] Nugroho J.Setiadi, SE,MM, Perilaku Konsumen : Konsep dan Implikasi untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran, (Jakarta:Kencana, 2003), h.3

[3] Ali Sakti, Anlaisis Teoritis Ekonomi Islam:Jawaban atas Kekacauan Ekonomi modern,(Paradigma dan AQSA Publishing, 2007)

[4] Yusuf Qarqhawi, Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam, (Jakarta: Rabbani Press,1995).

[5] Prof.Dr.Drs.H.M.Amin Suma,SH,MM, Menggali akar Mengurai Serat Ekonomi dan Keuangan Islam,(Tangerang:Kholam Publishing,2008)h. 322.

[6] Mukhammad Najib, “Perilaku Konsumsi Dalam Islam”,diakses pada jum’at, 13 Juni 2008 dari http://www.mail-archive.com/jamaah@arroyyan.com/msg00358.html,.

[7] Ali sakti, Anlaisis Teoritis Ekonomi Islam, h.166

[8] M. Muflih, Perilaku Konsumen Dalam Perspektif Ilmu Ekonomi Islam, h. 91

[9] Ety Rochaety,dkk., Metode Penelitian Bisnis,(Jakarta:Mitra Wacana Media,2007) h.15

[10] Ety Rochaety, Metodologi Penelitian Bisnis dengan Aplikasi SPSS, h.130.

About these ads

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: